SENYAP - The Look of Silence (full movie)

[suara serangga] Saya bernyanyi memanglah sengaja. Buatlah penglipur hatiku yang susah. Apalah guna kubenanglah benang, jikalah kubenang memutuslah tali? Apalah guna kukenanglah kenang, jikalah kukenang memutuslah hati? Pak Ali Sumito dibunuh di Sukasari? Apa yang terjadi? Orang takut lihat darah. Tunggangi, cekik mmmmm Keluar lidahnya biarin, keluar lidah… Kalau mau tahu situ. Yang satu, ku ‘pam’, jatuhkan! Keluar ini usus nih. Koyak perutnya. Yang satu lagi, angkat, jatuh ke batu. Pecah ini kepalanya. 3 meter, dilempar. Pecah kepalanya. Itu siapa? Tangannya berlumur darah.... Mamak rindu sama Ramli. Lama udah nggak jumpa sama Ramli. Kalo malam ngimpi. Ngimpi Mamak. Tinggal tulanglah. Dagingnya udah nggak ada. Doakanlah supaya penyakit Mamak sembuh. Ayahmu sakit. Matanya sudah tak melihat, jalan tak bisa, kupingnya sudah pekak. Mamak sakit pinggang, nggak sakit apa-apa. - Mana lebih enak. - Enak juga ini. - Jadi waktu tahun ’65 di mana Ibu tinggal? - Aceh. Aceh. Waktu tahun ’65 banyak pembantaian di Aceh? Waktu kami di sana nggak rusuh. - Ada yang digantung? - Nggak, aman-aman saja. Iya? - Kalau di Sungai Ular ‘kan banyak yang dibunuh? - Oh, PKI, maksudmu? Itu aku nggak tahulah, Nak. - Di Kutaraja, di Aceh nggak ada? - Nggak. Nggak ada. - Kalau tentang PKI tahu? - Ya tentu tahu. - Apa itu PKI itu? Entah apa salahnya, ditutup matanya semua- -dibawa ke sungai, dipotongi, ditembaki. - Yang memotongi, menembaki siapa? - Mana kita tahu? Banyak sekali pertanyaanmu. Oh. Cerita sore pengisi senja. Kalau ketemu orang tua, enak cerita-cerita masa lalu. Kacamata! Kacamata! Bagus kau, ya, main kacamata. Ayah jitak kamu kalau main kacamata. Mata besar! Pak, mau beli kacamata? Ini lebih baik. Ayah masih bisa nyanyi? - Hah? - Ayah masih bisa nyanyi? Bisa juga. Coba nyanyi. Aduh, aduh, aduh, duh! Mana tahan! Aduh, aduh, aduh, duh! Mana tahan! Bang, kau bisa macam anak-anak itu? Bisalah, orang itu nggak dalam. Wo! Sok berani! Komunis itu kejam. Komunis itu semacam tidak memiliki Tuhan. Para pemberontak G30S/PKI untuk melakukan perubahan sistem-- --mereka melakukan penculikan terhadap (Dewan) Jenderal. Para jenderal tersebut disayat wajahnya pakai pisau silet. Kamu mau? Bayangkan kembali, sebuah mata copot dari wajah kita. Mereka, dicongkel matanya keluar. Kalau kita motong ayam— --ayam itu kita ambil, tanpa dipotong langsung ditarik lehernya. Kejam nggak? Kejam. Begitu kejamnya PKI, kemudian mereka juga mendapat tekanan dari pemerintah. Para tahanan-tahanan yang ikut dalam G30S/PKI, masuk penjara. Anak-anaknya tidak boleh menjabat di pemerintahan. Hey, ini anak dari antek-antek PKI dulu! Tidak boleh duduk di pemerintahan. Hey! Dulu kakekmu ikut PKI! Nggak boleh jadi tentara. Hey, nenekmu dulu ikut menjadi gerombolan PKI! Nggak boleh untuk menjadi polisi. Makanya kalau kita mau memberontak terhadap negara, bisa masuk penjara. Berterimakasihlah kita kepada para pahlawan yang tadi itu-- --yang telah memperjuangkan negara kita sehingga menjadi negara yang… Demokrasi! Kata guru, kalau nggak mau tanda tangan, Disilet mukanya, Dicongkel matanya Satu lagi jenderalnya, “Tanda tangani!” Tak mau-- --disilet pipinya. Sekali lagi, “Mau tanda tangani?” “Tidak,” katanya. Congkel, matanya. Jenderal-jenderal yang dibunuh itu, siapa yang bunuh, katanya? Yang bunuh… - Dibilang karena pemberontakan, PKI, ya? - Iya. Itu semua bohong. Jadi yang katanya disiksa, ada yang matanya dicongkel… Jadi PKI itu nggak kejam? Nggak ada. Nggak kejam. Nggak seperti yang dituduhkan itu. Katanya kejam. Itu 7 jenderal itu mati dibunuh Angkatan Darat. Jadi yang bunuh itu bukan PKI. Nggak ada dibilang sama guru rakyat yang dibuang di Sungai Ular sana? Rakyat yang nggak berdosa, jutaan itu dibunuh nggak ada itu diomongin? - Nggak ada. - Nggak ada 'kan? - Orang-orang PKI? - Lemah dia terus. Mata ini diikat. Tangan sudah diikat, muka lagi diikat… Tengok lagi parang...tajam-tajam. Kalau gini ‘kan enak. Tangkap. Tangan sudah pada diikat begini. - Josh ini rekaman kapan dibuatnya? - 2003. April. Tapi mungkin semua itu terjadi karena-- ---atas penyesalan yang begitu dalam yang dia lakukan pada waktu itu. Yang dia lakukan, pembunuhan, pada waktu itu. Karena rasa penyesalan dan kesalahan yang begitu besar-- --ketika memperagakan pembunuhan tersebut-- --seperti mati rasa, begitu. Kalau mau tahu. Sudah ‘kan, siap? Itu Gerwani. - Oh ya? - Iya. Rasanya ya nggak enak. Benci aku. Cuma, yang jadi masalah itu ‘kan.... Setiap malam, jatah yang diberikan kepada kami, dibawa ke Sungai Ular. Truk berhenti di tempat ini. Dan orang yang kami tahan itu kami tarik-- --dari truk, kami seret satu-satu sampai lebih 100 meter ke arah hilir sana. Ada yang menjerit, menangis, atau minta tolong. Di sini ramai, penuh Komando Aksi. Penuh manusia. Tapi malam hari! Dan nggak bisa orang lain masuk. Hanya kami di sini. Tiap-tiap kecamatan ada barisannya sendiri. Umpamanya Bapak ini. Bapak ini pesakitan. Ini sudah nggak berdaya ini… - Ini sudah kena pukul dan sebagainya - Lebam-lebam ini. Bapak jongkok dulu, maaf ya. - Tangan Bapak minta sama saya… - Saya waktu itu bukan jongkok, duduk saya. Ini tarik terus saya. Tarik ke sana. - Ini saya udah nggak pake baju. - Ya udah nggak pake baju semua. Tinggal celana aja - Ditarik seperti apa, Pak? - Ini, gini. Ditarik. Ini ‘kan dia tergolek ke sana. Tangan terikat. Tariklah terus. Sampai ke pinggir sungai sana. Waktu ditarik ini, dia sudah nggak bisa apa-apa. Cantik pula. Harum. Harum. Tapi nggak begitu kali, ya? - Ya. - Harum. Hmmm. - Jadi di sini tempatnya, Pak? - Iya. Dari belakang situ, saya lari ke sana. - Di sebelah sini dibariskan? - Ya. Baris satu. Waktu dibariskan itu, ada yang nonton? Waktu itu malam, siapa yang nonton!? - Orang pun nggak berani, ya? - Ya, nggaklah. Mana mungkin berani. Jadi, di sini Ramli mulai sadar kalau mau dibunuh? Dia minta tolong. Dia menjerit minta tolong, bilang mau dibunuh? Dia minta tolong, mau dibunuh Kita semua mau dimatikan. - Dia jerit-jerit begitu? - Ya gitulah. - Waktu itu lompat di sekitar sini? - Di rumah itu. Di rumah papan itu, ya? Paling, hanya dengar "Tolong, tolong" dan suara tembakan. Trot tot tot tot tot. Dhuar! Jadi, di tempat ini Wak Ramli dibacoki. Bapak ini lompat, lari ke belakang sana ke kelapa sawit. Kalau Bapak di sinilah, apa perasaan Bapak sekarang? Perasaanku itu apa yang sudah ya sudah. Karena sudah kuizinkan. Nggak ada aku kenang-kenang lagi. Istilahnya, cari masalah, ‘kan gitu. Kalau kita begitu ‘kan cari masalah. Apa yang sudah tertutup terbongkar balik, ‘kan gitu. Kalau saya umpamakan itu koreng, koreng itu sudah sembuh. Ada jalan ke bawah ini? Ke sungai? Jalan dari sini ke sungai? Jadilah inilah, kami seretlah dia di sini, pelan-pelan. Ya disinilah kami seret, kalau tak mau kami campakkan dari sini. Ya. Pelan. Di sini…. - Ini licin ini. - Ya, licin Iya, aman. Tolong, tolong! Ampun, Pak! Kami seret dia terus sambil dia ada yang bisa berteriak langsung. Tolong, tolong, Pak. Ampun! Tolong! - Tapi kami nggak peduli apanya itu…. - Tolong, Pak, tolong! Malah kami pukuli lagi dia, supaya diam mulutnya-- --karena bisa mempengaruhi pasukan kami nantinya. Bisa nanti mereka merasa takut. Tolong, saya jangan dibunuh, Pak! Namun kami tarik terus. Ini di belakang saya sudah ada yang menyorong lagi, nih. Tahanan di sini bisa melihat darah? Bisa. Bisa. Karena entah beberapa puluh senter itu menerangi kami. Nggak ada lampu di sini ‘kan. - Jadi Anda tahu Anda akan dibunuh? - Iya. Tahu. Anda melihat darah orang lain? - Iya, dia tahu. - Orang ada yang udah duluan di sana ‘kan. Ya pasrahlah orang itu. Perasaannya, ‘Saya pun bakal mati, ya pasrah ajalah.’ Begitu. Nah ini. Dulu di sini. Ini kan dulu di sini ada dermaga ke sana. Ada dermaga dulu ke mari. Dulu ada dermaga ke sungai itu. Jadi saya jalan ke sana, beginilah...begini. Ada yang digolekkan. Ada yang tunduk begini. Maka algojo sudah datang, maka ini ditebaslah di sini. - Kalau darah itu… - Darah itu sudah muncrat-muncrat semua. Sesudah kepala jatuh, kemudian saya ditendang. - Ditendang ke sana. Hanyutlah dia… - Kepala pun hanyut juga. Timbul tenggelam dia, seperti begini. Badan itu. Tunggu, tunggu, tunggu… Badanku ini berat, sudah tua ini. Nggak muda lagi. Berat. Ya. Ya, okay. Ya, Allah. La ilaha ilallah. La ilaha ilallah. Amin ya robbal alamin. Astaghfirullah aladzim. Ya Allah. [intro lagu 'Lukisan Malam'] [Bintang-bintang, terang cemerlang di malam sepi] [Bertaburan di angkasa segara] [Menghias alam] [Angin pulang lemah gemerlai mengusap bumi] [Diringi nyanyian maha merdu Sang Ratu Malam] [Waktu ini sunyi dendam] [Suasana alam] - Assalamualaikum. - Alaikum salam. - Berapa umur Bapak? - 72. Hampir seabad. KTP aja seumur hidup. Kawan-kawan udah nggak ada. - Maaf, Pak, ya. - Silakan. Macam mana, kok Bapak bisa kenal dengan Josh? Oh, dia kemari tujuh tahun yang lalu. Ini mata Bapak, yang kiri sudah kututup. Ini yang kanan. Ini kalau melihat ke sanalah, tambah terang atau tambah kabur? Tambah terang. Kalau orang sini, orang sekitar, itu takut sama Bapak? - Jadi orang-orang sini nggak berani sama Bapak? - Nggak. - Kalau ini ada tambah terang? - Ya, tambah terang. Kalau kita nggak minum darah manusia, kita nanti jadi gila. Gila kita. Banyak yang gila. Kalo ini Pak, ada tambah terang? Mana terang sama yang tadi? Terang. Sama. - Sama ini? - Ini agak kabur sedikit. Kalau cerita orang gila itu gimana, Pak? Itu udah kelewat banyak, barangkali-- - Apa perasaan Bapak? - Masin. Masin-masin manis. Darah manusia. - Apa? - Masin-masin manis. Darah manusia. - Oh, Bapak yang…. - Ya, diserahkan sama abangnya. Itu yang Bapak bunuhlah, itu sekali potong atau…? Ya, sekali aja lah. Nggak boleh dua kali. Tapi kenapa dengan tadi Bapak potong payudaranya dulu? - Ya iyalah. - Itu Bapak potong dulu, kemudian.... - Lehernya. - Itu dua kali potong. Mau 10 kali potong, kalau manusianya masih bandel, apa saja boleh. - Setahu Bapak, PKI itu apa? - Partai Komunis Indonesia. - Iya. Apa itu? - Partai Komunis Indonesia. Itu aja. - Tadi ‘kan Bapak bilang…. - Partai Komunis Indonesia tanpa ada agama. Istrimu itu istriku juga. Begitu menurut cerita orang. - Itu ‘kan menurut cerita orang. - Ya menurut cerita dialah. Kami tanya dia, apa maksud kalian, tujuannya. - Tapi Islam nggak mengajarkan pembunuhan. - Nggak, memang nggak ada. - Jadi, Bapak…. - Jadi sekarang, Saudara ini nanya bagaimana ini? Apakah ini mendatangkan...apa itu, ya ‘kan? Ini, saya bilang, saya tahu ini. Saudara ini menanya terlampau dalam kali, kutengok. Ya. Saya nggak suka itu. Saya nggak suka dalam-dalam. Kalau mau dibatalkan, batalkan saja ini. Saya nggak keberatan. Sebab kutengok, Saudara menanyakannya lebih dalam dari tujuan Joshua ke mari. Nah ini saya nggak suka itu. Ngomong soal politik saya nggak suka. Saya soal politik.... Ini soal politik ini, jadinya. Saya nggak suka. - Aku nggak tahu soal politik.... - Saudara nggak tahu, tapi menanyakan soal politik. Lagipun waktu saya pun sudah… Jam empat saya sudah ke masjid. Oh, gitu ya Pak. Jadi nanti kukasih kacamata yang sesuai dengan ukuran ini. Ini dia. Tahu aku ukurannya. - Nanti kukasih yang sesuai dengan Bapak. - Alhamdulillah. Kalo bisa, yang bisa untuk membaca. Jadi, Pak, ini…kalau kejadian ini, apa Bapak anggap? Kuanggap sudah, tuntaslah sudah. Sudah nggak berapa lagi. Sudah amanlah begitu. Bagaimanapun yang sudah, sudah. Untung aja saya itu sempat minum darah orang. Kalau saya nggak minum darah orang, saya gila. Mungkin azan, manjat pokok kelapa. Cuma, gini, Pak. Ada yang mengganjal di perasaanku. Sebetulnya, aku mendatangi Bapak, untuk maksud yang jelek, nggak ada-- --tapi ini lebih untuk pengungkapan sejarah. Karena sejarah, selama ini, dibelokkan. Artinya, orang-orang yang Bapak bunuh, yang katanya tidak beragama-- --tidak percaya Tuhan, itu non-sense itu, Pak. Itu hanya propaganda-- --supaya orang-orang beragama seperti Bapak itu mau membunuh-- dengan alasan mereka tidak percaya Tuhan, tidak mempunyai agama. Itu yang Bapak bilang, “Istrimu itu istriku” itu nggak betul. Itu hanya propaganda. Tapi, kadang saudara, ke situ larinya. Heran aku. Kok ke situ larinya. Ini nggak cocok. Udah, Joshua. Udah berhenti aja. Udah. Lain larinya udah. Lari ke politik udah. Lari ke politik pula. Kok bisa goyang ini? Sebab di dalamnya ada kupu-kupu. - Kemarin kau cabut gigi, ya? - Iya. - Gigimu udah goyang? - Belum. - Pake apa nyabutnya? - Pake tang. Sama? Sama.... Sama...apa tuh.... Aku ciumilah dia. Aku buka celananya. Bajunya darah melululah itu. Aku ciumilah dia. Iyalah Mak. Selamat tinggal ya, Mak. Anak cucu dia. [bersenandung tidak jelas] - Yah? - Ya. Ayah.... Kira-kira... Enambelas, tujuhbelas gitulah. - Umur Ayah 16 tahun? - Ya. Jadi mungkin kita bisa mulai dengan…. Apa yang kejadian lah ya? Jadi, kalau di sini, pada saat penumpasan PKI lebih kurang 3 bulan, siang dan malam-- Kami bawa, kami antarkan kira-kira jarak 3 km dari kota Lubuk Pakam ini-- Kami gali lubang, kami tanam hidup-hidup. Itu ada daftar nama yang dibawa dari tahanan ke Sungai Ular itu. Yang dibawa malam ini sekian orang, kita teken. Malam besok bawa sekian orang, teken. Berapa tahanan Bapak teken ke Sungai Ular? Kira-kira 500-600 orang, ada. Saya rasa ini, anggota Angkatan ’66, wajar dikasih, karena masalah internasional, ya-- --wajar dikasih hadiah. Mana Angkatan ’66 yang masih hidup, yang sudah tua, bisa diajak ke Amerika. Tak usah pun naik pesawat udara, bisa naik kapal laut, iya ‘kan? Wajar lho. Ini kita ‘kan lantaran Amerika mengajar kita benci sama komunis. Bapak di sini sebagai tokoh masyarakat di Kabupaten Deli Serdang.... Ya. ...dan sepertinya dalam ekonomi pun Bapak sangat berhasil. Apakah ini semua karena apa yang Bapak lakukan di masa lalu? Saya rasa, ini kita juga mensyukuri-- --ada beberapa kawan-kawan kita yang berhasil dapat membantu kita-- --yah, mungkin juga karena perjuangan itu juga ‘kan? Macam yang membantu saya, waktu membangun ini, ada yang kasih semen, ada yang kasih batu, ‘kan. Artinya, kekayaan Bapak diperoleh atas apa yang Bapak lakukan di masa lalu. Ya. Kalau kita buat baik, balasan yang didapatkan pun baik. Bapak sebagai Ketua Komando Aksi di Kabupaten Deli Serdang-- --dan Bapak juga bertanggung jawab atas pembunuhan yang begitu besar waktu itu. Tahu masyarakat sini, kalau Bapak sebagai Komando Aksi? Tahu. Tahu orang itu. Kan gini, Pak… Aku… Abang saya… …dibunuh itu, Pak. - Ya. Tapi berhubung karena pembunuhan ini di bawah komando Bapak…. Kalo di…. Bukan kita juga…. Kan, Bapak yang bertanggung jawab, karena Bapak sebagai Ketua Komando Aksi pada waktu itu. Komando Aksi ini banyak. Bukan satu aja Komando Aksi ini. Iya, tapi Bapak Ketua Umum waktu itu ‘kan? Komando Aksi ini sudah rakyat bersama ABRI, dan ini masih ada atasan-- --dan ini dilindungi oleh pemerintah. ‘Kan gitu. Jadi kalau Adi bilang saya bertanggung jawab, jauh kali itu. Setiap, beberapa orang pembunuh yang saya jumpai-- --mereka tidak merasa bertanggung jawab. Bahkan rasa menyesal juga nggak ada itu. - Tapi Bapak jangan tersinggung, Pak, ya. - Ya! Rasanya secara moral, Bapak nggak bertanggung jawab. Secara moral. Bapak sepertinya cuci tangan. Saya tanya Adi, Abang awak itu dia di organisasi di Medan? Dia di Deli Serdang, Pak. - Di daerah mana? - BTI. Daerah mana dia? Aku pikir…. Nggak usah...itulah. - Coba, kecamatan mana dia? - Itu kupikir…. Bilangkan aja. Nggak apa-apa. Jadi kenapa aku menyembunyikan identitas diriku-- --karena itu tadi, para pembunuh itu masih berkuasa-- --dan masih menganggap dirinya pahlawan. Kan masyarakat ini sekarang ‘kan banyak diobok-obok sekarang ini… Yang berbahaya bukan PKI yang terdaftar. Yang berbahaya itu yang tidak terdaftar. Apakah mungkin yang tidak terdaftar ini yang bikin program ini? Kemungkinan ‘kan? Seandainya aku berbicara di era Orde Baru sama Bapak, apa yang Bapak lakukan dengan aku? Kita nggak bisa bayangkan apa yang terjadi. Kalau di dalam Orde Baru itu? Lagi suasana panas, apa semuanya? Nggak bisa kita bayangkan ini. Ya, teruslah.... Kembangkan terus itu apa program PKI ini. Teruskan aja. Hmm. Udah. - Mamak ngerti? - Hm? Kalau di sini dia, mudah. - Tulang di sini keras. - Iya tengkuk ini. - Kadang sampai dua kali. - Iya. - Tapi kalau di sini, gampang. - Tenggorokan. - Gorok. Memang betul itu, gorok terus. - Sembelih. - Nah, itu. - Kalau udah kena sembelih.... Nah, kalau yang dipotong seperti ini, nggak ada suara. Tapi kalau yang digorok, bunyi. - Hhrrrr.... - Ya, bunyi tuh. Darah itu moncor. Sraat! - Darah itu, nyembur dia - Nyembur. Ya. - Ahhh. - Nah itulah gitu. - Nah ini kan senjata tajam, dari belakang. - Iya. Cucuk. Nah, ini. Maaf, Pak, ya. Potong-- Cucuk, apa dia, koyak, tendang-- --mati. Itulah cerita si Ramli yang saya katakan itu. Itu terpaksa kemaluannya dipotong. - Dari belakang. Dibelah ini, dibelah ininya. - Baru dia mati. Iya, kan. Sebab itu peristiwa. Sejarahnya di situ. Ini jadi sejarah-lah ini! Tunggu sebentar. Soal Ramli tadi gimana? Dari sana ngambilnya. Bapak jongkok menghadap ke sana. - Wah, ini dia. - Supaya asli, nampak pisaunya dari situ. Gitulah kira-kira. - Ah, ini bahaya ini, Pak. - Nggak, nggak apa. Diperagakan supaya nampak aslinya begitu. Tadi nggak bilang, kalau gitu saya bawa pedang yang aslinya dari rumah. Maka dibacoklah Saudara Ramli ini berkali-kali -- --dan ditusuk dengan keris waktu itu-- --maka kelihatan sudah tidak berdaya, maka ini saya tolakkan ke sungai-- --maka dia bergantunganlah di akar-akar kayu ini-- --sambil dia berteriak, ‘Tolong! Tolong saya, tolong saya!’ Jadi, walaupun si Ramli ini kita tahu waktu hidupnya itu orang baik-- --tapi apa boleh buat? Keadaannya waktu itu revolusinya harus begitu. Kalau backing dari tentara seperti apa, misalnya? Nggak pernah ke mari, tuh. Nggak pernah ngikuti kita. Seperti yang saya katakan semalam itu-- --ini adalah ‘perjuangan rakyat.’ Bukan pemerintah atau ABRI. Jadi dia menjaga posisi. Kalau dikatakan ini perjuangan pemerintah, dunia akan marah. - Jelaslah. - Iya, kan? Bahwa pemerintah Indonesia membasmi PKI. Maka mereka itu jaga diri, tidak mau ikut langsung-- --maka rakyat inilah yang menggerakan ini untuk menumpas PKI. Walaupun backingnya itu kita tahu, mereka di belakang. Bapak menjabat sebagai Ketua Komando Aksi. Banyak pembantaian yang terjadi di sini, terutama di Sungai Ular. Apakah semua itu atas instruksi Bapak? Ya. Karena begini, ya-- --kalau pembantaian itu, itu spontanitas rakyat-- --yang tidak setuju pada paham komunisme ini. Jadi, Pak, proses pembantaian itu dilakukan, itu diambil dari tahanan-- --diambil dari TPU-lah-- --dikawal polisi dibawa Komando Aksi ke lokasi pembantaian, Sungai Ular-- --bagaimana mungkin itu dianggap spontanitas dari rakyat? Jadi begini, di sini salah pengertian kita. Yang spontanitas rakyat ini adalah menghancurkan idealisme paham PKI. Apakah ini Bapak katakan karena Bapak masih menjabat sebagai anggota Dewan? Nggak, nggak. Saya hanya ingin meluruskan. Kita itu bukan Rambo. Saya sebagai Sekretaris Umum Kesatuan Aksi, waktu itu. Atau karena kesalahan itu terlalu besar, Bapak tidak berani mengakuinya? Oh, tidak. Tidak. Tidak. Saya menganggap itu tidak besar. Bagaimana mungkin tidak besar, satu juta orang dibunuh atau lebih? Itulah dia politik. Mencapai idealisme, prosesnya adalah proses politik-- --dalam berbagai aspek. Aha! 'Kan itu. Bapak ‘kan sudah dari tahun ’71 sampai sekarang menjabat Ketua DPRD di Deli Serdang-- --di kabupaten ini, mungkin ratusan ribu yang jadi korban. Bagaimana Bapak bisa menjalankan politik Bapak di tengah keluarga yang Bapak bantai ketika itu. Ini begini, ya…. Kalau kita bicara soal politik…. Ha! Ini politik ya.... Kalaulah anak cucu mereka ini dendam sama saya-- --saya tidak akan pernah mendapat suara terbanyak-- --duduk kembali. Ah, ini bukti bagi diri saya, karena saya tidak sombong. Manusia ini jangan disakiti hatinya. Obati hatinya. Kunjungi mereka. Apakah formal, non-formal. Apakah mereka memilih Bapak karena tekanan-tekanan? Oh, ndak. Ndak ada tekanan-tekanan. Aku lahir tahun 1968, bulan Februari. Dan sebetulnya, Pak, abangku, itu salah seorang korban-- --yang dibunuh dengan cara yang sadis, oleh anak buah Bapak. Itu abang saya. Sekarang saya juga ingin bertanya-- --apakah keluarga eks PKI ingin terjadi lagi kejadian sebagaimana dulu? - Oh tidak Pak - Tidak? Robah! Kalau kita kaji dulu, karena dulu begini, begini, kita ingin dulu-- --wah, udah payah, akan kejadian seperti dulu. Pasti akan kejadian. Tidak cepat atau lambat, akan kejadian. “Aisyah pergi ke…”Ke apa tuh? “Ke kantin.” Di rumah Aisyah makan siang, lalu Aisyah bobok. Bobok. - Banyak kali ceritanya. - Aisyah pergi ke pasar, beli cumi-cumi. Cumi apa? Kentut, deh. He he he he. Kurang ajar kau ya. Ini kan bacanya kentut. Cerita tentang kentut. - Mana ada kentut? - Ini. Bau kentut. Kena kentut, enak Pak? Tambah deh. Haaaaahhhh! Haaaaahhhh! Itu belum seberapa. Aisyah sudah berapa hari nggak gosok gigi? 1, 2, 3, 4, 5... Udah setahun. - Setahun. - Apa ini, Syah? Coba lihat. Kalau tahu Adi mau jumpai orang yang bunuh korban itu, aku nggak akan kasih Adi ke sana. Karena…bisa aja orang itu nyulik Adi-- --Adi dibuang entah di mana, dibunuhnya. Nggak Adi pikirkan anak-anakmu? Si Iqbal, Aisyah? Kalau terjadi apa-apa sama Adi, bagaimana dengan kami? Salamualaikum. - Sehat? - Sehat. Paman di rumah? Salamualaikum. Sehat, Mang? - Sehat? - Alhamdulillah. - Nggak juga. - Nggak tambah terang? Sedikitpun? - Tambah gelap? - Nggak, biasa saja. Ini biasa? Saya dengar pun dari anggota Komando Aksi itu aja. Di sini masih ada yang hidup, yang ikut massa pembunuhan itu. Nggak bisa kita. Massa dengan ABRI sudah kompak, nampaknya. Saya di bawah perintah ABRI-lah. “Jaga keamanan di kecamatan kalian!” Ya sudah, saya jaga kemanan, ya, apabila disuruh jaga di penjara, ya, jaga. Nggak ada Paman merasa bersalah atau menyesal? Karena orang yang Paman jaga itu rupanya untuk dijagal. Ya, sedikit banyak, Paman ikut terlibatlah. - Ikut terlibat nanggung dosanya, gitu? - Iya. Lantaran kita itu membela negara, nggak ada pikiran sampai ke situ. - Nggak ada perasaan menyesal? - Yang sudah itu sudahlah, gitu lho. Ya, walaupun yang sudah itu sudahlah, tapi ada nggak rasa menyesal? Daripada dituduh terlibat, lebih baik saya nurut saja. Pokoknya kita jangan ikut membunuh. Udah. Tapi orang yang dibunuh itu...Paman 'kan tahu, di kampung sini nggak ada apa-apa. Artinya ‘kan Paman ikut membantu membunuh orang yang nggak bersalah. Ya nggak ikut. Saya jaga keamanan, kok, ikut. Kalau ikut, saya bawa golok, ikut nyembelih, nyemplungkan, nah, itu ikut. - Tapi ‘kan jaga juga. - Iya, jaga keamanan orang yang mau memberontak. Sedangkan seumuran, dia nggak pernah salat. Nah, di situlah! Tapi kalau.... Waktu G30S meletus, barulah mereka memadati masjid kecil itu-- --lantaran takut disembelih. Sekarang mereka mengundurkan diri, satu persatu. Tinggal penduduk lama juga. Panggil orangnya yang begitu, banyak di sini. Mereka cuma menjalankan yang sunah saja. Dan kau menyalahkan saya? Mana bisa! Ayah masih bisa melihat? Ayah. 'Kan terang, tuh. Saya tahu dari SMP, dari orang-orang-- --"Bapakmu tukang ini, bunuh PKI," katanya gitu. Perasaan saya tahu dari orang, ya, merasa bangga. Karena ‘kan pemberantas. Merasa bangga.... Di sini pun Bapak terkenal. Disegani, begitu, di daerah Pakam, gitu. Jerit-jerit Cina tuh. He he he he. "Waya...waya...waya...." - Bapak bungkus kepalanya? Perempuan? - Iya. - Perempuan yang Bapak itu.... - Iya. - Supaya naku t-nakuti? - Iya. - Jadi, apa gunanya untuk Bapak waktu itu? - Kubuang lagi lah. Maksudnya, apa gunanya nakut-nakuti Cina itu? - Nakut-nakuti Cina itulah. - Nakut-nakuti aja? - Cuma nakut-nakuti aja, dia. - Jadi, kubuanglah. Ke tong sampah. Cuma dipotong teruslah di sungai. Campakkan ke sungai. Itu dulu. Ini tangan diikat ke belakang sini. Itu semua orang? Itu kan banyak orang.... Jangan banyak-banyaklah. Dua gelas cukup. Kalau dulu. Itu dari mana darahnya Bapak ambil? Ya, dari leherlah. - Tampung di gelas. - Leher dipotong, tampung di gelas. Diminum. - Apa tujuannya itu, Pak? - Supaya jangan gini...stress. Kakak 'kan tahu, kalau Bapak banyak sekali membunuh orang-- --dan setiap membunuh selalu minum darah. - Itu bagaimana perasaan Kakak? - Ya baru dengar kali ini. Merasa takut, gitu. Baru dengar ini, dia minum darah gitu. Oh Kakak baru kali ini dengar? - Kaya apa perasaan Kakak sekarang? - Saya rasa kok, kaya mana ya? Baru dengar ini.... Sadis. Mungkin karena dia minum itu, badannya kuat aja. Sebelumnya nggak pernah dengar, baru inilah tadi dia…. Kalau aku…. Abangku itu orang yang dipotong juga-- --waktu itu.... Setengah tiga. Kalo abangnya Abang dipotong, maaflah, 'kan Bapak nggak tahu. Memang tahunya baru sekarang, ya 'kan. Dulu 'kan saya nggak tahu-- --masih kecil. Anak-anaknya pun kami nggak tahu. Rasanya ya…. Karena-- --Bapak yang membunuh, itu Kakak nggak bisa disalahkan. Karena, Kakak juga nggak bisa.... Bagaimanapun juga, ini Bapak Kakak. - Jam tiga! - Iya, iya, iya. Saya kaya pernah kenal. Kerja di mana? Nggak kerja? Aku pun kayak kenal sama Kakak. - Kita sudah kenal. Bersaudara kita. - Anakmu, suruh mengaji dulu. Minta maaflah ya, atas kesalahan Bapakku ya, Bang. Jadi saudara.... Dia pun sudah tua. Anggap orang tua sendiri. Sering-seringlah main ke mari, saya udah nggak punya mamak. Inilah, ngurusin dia. Udah pikun. Orang datang, dia nggak kenal. Dia sudah tua dan pikun sekali. Ngurusin dialah ini, sampai saya berhenti kerja. Kalau ada orang datang, dia tidak tahu itu siapa. Entah ngambil apa, nggak tahu dia. Saudara pun dia sudah tidak ingat lagi. Inilah dia. Ngurusin dialah. Sekali lagi, permisi, Kak ya. Pak, permisi lagi. Yang kami bunuh di lubang-lubang...32 orang di sini. Inilah buku yang saya susun mengenai kejadian di Teluk Mengkudu. Joshua minta satu kopi buku ini. Saya kasih. Penting juga untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Supaya ingat sama kita nantinya ‘kan. Ke anak cucu kita ini…. Memang ini isinya lengkap. Ini lengkap. - Ke sini, tak apa-apa. - Mau memfotokopi ini? Ini saya sket sendiri…. Artinya kita bikin sketsa untuk memperjelas isi cerita yang sebenarnya. - Ini dia Sungai Ular. - Sungai Ular. Yang di bawah komando Bapak di Teluk Mengkudu ada 32 korban. Yang dibunuhlah ketika itu. Sebetulnya aku ingin sekali ketemu Bapak-- --cuma karena Bapak sudah meninggal-- - tapi aku bisa ketemu dengan Ibu, juga dengan anak-anaknya. Di antara 32 orang yang dibunuh itu, yang ceritanya paling seram-- --yang paling ngeri, itu tentang Abangku, Ramli. Abangku itu dibacok bahunya-- --udah gitu perutnya dikoyaklah. Ususnya keluar. Ini punggungnya jebol. Tapi dia sempat pulang ke rumah. Sampai ke rumah, dia di halaman manggil-manggil Mamak. Dia ditidurkan di ruang tamu. Pagi-pagi dijemput. Yang jemput itu termasuk juga Bapak. Bapak 'kan waktu itu Ketua Komando Aksi. Bapak bilang ke Mamak bahwa Ramli itu mau d iobatin ke Tebing. - Tapi di mobil, dia sudah dicincang-cincang. - Ya Allah.... Jadi dibawa, dipotonglah kemaluannya, barulah dia meninggal. Itu digambarkan juga di buku ini. Kami tak pernah baca buku ini. Ini buku dari Bapak? Iya. Sama Ibu ngasihnya. Ini Abangku. Ini Mamak. Ini Abangku. Inilah yang digambarkan Bapak. Kami tidak tahu. Bapak tak pernah cerita. Ada buku pun, tak pernah kami baca. Kalau membunuh, Bapak nggak pernah. Dia bilang nggak pernah membunuh. - Tapi dia membukukannya. - Ada di buku? - Ada. - Tidak tahu kami. Kami tidak tahu semua yang dia kerjakannya. Apalagi kami masih kecil ya. Kami tidak pernah tahu, dan dia tidak pernah bercerita. Saya tidak mau membuat suasana tidak nyaman.... Karena saya pun dalam keadaan sakit. Tapi Adi datang ke sini karena Adi mau bicara secara terbuka…. Semua yang di sini berkawan. Entah orang tuanya terbunuh atau PKI, intinya kami berkawan bagus kok. 'Kan begitu. Jadi sekarang ini, terbuka luka. Dikarenakan Joshualah, mengambil ini semua, dibukukannya sejarah oleh mendiang-- --akhirnya terbuka Kalau nggak, mana kenal dengan aku ’kan? Tahu. Tahu kami. Aku tahu persis keluarga ini. Siapapun yang keluarganya dibunuh, pasti ingat. - Tapi ingat bukan berarti dendam. - Apa Abang merasa dendam kepada keluarga kami? Kalau aku dendam, nggak mau aku datang ke sini. Mana tahu hanya karena ada Joshua datang ke mari. Andai kata saya jadi Adi, saya berjumpa dengan si pelaku, atau anak si pelaku.... Udahlah sampai di sini saja. Ibu saya pun sakit, nanti dia pun trauma lagi. 'Kan begitu. Mengingat masa lampau, kita benahi bagus-bagus sebagaimana mestinya, ikut Orde Baru ini. Kalau Joshua memaksa kami terbuka, apa yang bisa kami buka? Coba, boleh.... Tinggal tekan spasi. Yang kami bunuh di lubang-lubang.… Si Ramli itu…. Nah, ini Sungai Ular. Jembatan besi… Masya Allah… Ini mengenangkan pada orang tua kami. Kami nggak bisa lihat ini, betul. Lebih bagus kita bicara aja. Saya nggak senang ini. Lebih bagus ditutup. Bicara saja. Kenapa begini ah? - Ada lagi yang Adi mau sampaikan? - Nggak. Cuma kami mohon maaf sama Adi ya. Apa yang Adi rasakan, itu kami juga merasakannya. Ya kami mohon maaflah, kepada ananda Adi. Ada satu rekaman lagi, dengan Bapak.... Itu udah kami nggak mau tahu itu. Kami tidak mengerti itu. Kalau mau berakhir bagus, ya bagus… - Kami tidak tahu soal itu. - Di sini dia menceritakan…. Iya, kami tidak tahu soal itu. Tak usah dibuka-buka. Tak usah dipanjang-panjang masalah, Joshua. Kasihan dia di dalam tanah sana…. Saya sambut Joshua dengan baik, tapi kaya gini, udah nggak senang saya. [suara serangga] Lho? - Salamualaikum. - Walaikum salam. Mari, Bu. Yang sudah, sudah. Mohon pada Yang Maha Kuasa, semoga dikasih panjang umur. Ya inilah cerita kejadian Ramli yang sebenarnya. Dan yang lainnya, saya rasa, kejadian yang serupa tapi tidak sama. Tapi itulah yang pernah kami alami waktu itu. Saya rasa singkatnya begitu. Yah begitulah hidup di dunia ini. Kalau mau foto silakan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Islam, Kristen, Yahudi = Satu Keturunan ?

The Future of Higher Education in the Age of Disruption

History of Technology Documentary